MANADO โ€” Di tengah suara warga yang menginginkan kehadiran langsung pemimpin di Kepulauan Sangihe, Ketua Aliansi Rakyat Mengawasi Kinerja (ARMAK) Sulut, Calvin Castro, memberikan gambaran menyeluruh bahwa perhatian terhadap wilayah terluar itu tidak pernah terhenti. Meski Gubernur belum hadir secara fisik, arahan dan koordinasi berjalan cepat untuk menanggapi rentetan peristiwa yang melanda Sangihe dalam waktu singkat.

๐Ÿ“ข Rentetan Bencana Bertubi-tubi, Gubernur Tetap Kendalikan Langkah Penanganan

Gempa berkekuatan M 7,7 pada Juni 2026, disusul banjir bandang Juli 2026, lalu kebakaran hutan dan lahan di Gunung Awu September 2026 โ€” Sangihe diuji bertubi-tubi. Di tengah tekanan itu, Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus tetap mengeluarkan arahan tegas meski terhalang tugas dan tanggung jawab di pusat pemerintahan.

“Gubernur tetap menginstruksikan koordinasi menyeluruh antara Pemprov Sulut, Pemkab Sangihe, BPBD, TNIโ€“Polri, unsur kehutanan, pemadam kebakaran, dan seluruh kekuatan yang ada. Termasuk menyiapkan dukungan pemerintah pusat jika kemampuan daerah belum cukup,” tegas Calvin Castro menyampaikan arahan Gubernur.

โœ… Hasil Nyata: Bantuan Sampai Pulau Terluar, Tak Ada Korban Jiwa

Koordinasi yang dijalankan telah membuahkan hasil yang bisa dirasakan warga:

– ๐Ÿ“ฆ Logistik Darurat Tepat Sasaran โ€” Bantuan pangan, tenda, tempat tidur, dan obat-obatan dikirim hingga ke Pulau Kawio, Matutuang, dan Marore. Warga di perbatasan terluar tidak ditinggalkan sendirian.
โ€‹
– ๐Ÿ›ก๏ธ Keamanan Warga Terjaga โ€” Jalur pendakian Gunung Awu ditutup secara terpadu, titik api berhasil dilokalisir, dan tidak ada korban jiwa dilaporkan. Kesigapan ini mencegah duka yang lebih dalam.

โš ๏ธ Isu Konsesi Tambang: Suara Warga Didengar, Keseimbangan Dicari

Calvin Castro juga mengakui secara terbuka adanya gelombang protes masyarakat terkait rencana pemberian izin konsesi tambang baru di Sangihe. Dua dampak utama menjadi perhatian serius:

– ๐ŸŽฃ 4.900 Nelayan Terancam โ€” Mata pencaharian utama warga pesisir dikhawatirkan tergerus jika izin berjalan tanpa perlindungan yang memadai.
โ€‹
– ๐ŸŒฟ Pulau Kecil, Ekosistem Rentan โ€” Kerusakan lingkungan di Sangihe tidak bisa dipandang sebelah mata. Kerusakan yang terjadi akan berdampak jangka panjang bagi generasi mendatang.

“Pembangunan tidak boleh mengorbankan ruang hidup warga yang telah mendiami pulau ini turun-temurun,” ujar Calvin Castro menegaskan pentingnya keseimbangan antara kemajuan dan perlindungan rakyat.

โšก Sisi Cerah: Energi Terbarukan untuk Warga Perbatasan

Di tengah tantangan, ada harapan baru yang sedang disiapkan Pemprov Sulut:

– โ˜€๏ธ 3 Unit PLTS Akan Dibangun โ€” Desa Beeng Darat, Desa Kahakitang, dan Desa Para akan mendapatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Keterbatasan listrik akibat letak kepulauan akan perlahan teratasi.
โ€‹
– ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Memperkokoh NKRI di Perbatasan โ€” Energi yang stabil bukan hanya menopang ekonomi warga, tetapi mempertegas kehadiran negara di wilayah yang berbatasan langsung dengan Filipina.

๐Ÿ“Œ Penutup: Hadir Melalui Kerja, Tetap Terbuka untuk Hadir Langsung

Calvin Castro menegaskan bahwa kehadiran pemimpin tidak diukur hanya dari kunjungan fisik, melainkan dari arahan yang berjalan dan bantuan yang sampai. Namun suara warga yang mendambakan kedatangan langsung di tanah kelahiran tetap menjadi masukan berharga.

“Tugas pemimpin bukan hanya datang berfoto, tapi memastikan warga tidak dilupakan. Apa yang dilakukan ini adalah awal โ€” masih banyak yang harus ditingkatkan, termasuk kehadiran langsung di tengah warga,” pungkas Calvin Castro.

Masyarakat Sangihe berharap langkah nyata yang sudah berjalan ini disusul dengan kedatangan langsung pemimpin, agar janji pemerataan pembangunan benar-benar terasa sampai ke pulau-pulau terluar Sulawesi Utara.(***)